Sore-sore jam 3-an gini emang kadang berasa lapar banget. Celingak celinguk ke dapur, ee rupanya spaghetti dari sarapan tadi pagi masih ada. Jadi kupanasi deh, lumayan lah daripada kelaparan. Seporsi spaghetti plus teh manis dingin siap terhidang untuk menemani sore hari yang sepi dan galau. Galau karena lagi ngebaca Oyasumi Punpun volume 8. Buon appetito!
SOPA. Belakangan kata itu marak terdengar terutama bagi kalian yang menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya. SOPA adalah singkatan dari Stop Online Piracy Act. Seperti yang bisa dilihat dari namanya, SOPA ini merupakan sebuah rancangan undang-undang yang akan diajukan ke kongres AS untuk menghentikan pembajakan secara online. Tapi efeknya bisa lebih parah daripada itu, SOPA dapat mengekang kebebasan berinternet secara menyeluruh.
Salah satu bentuk protes Wikipedia
Selain SOPA, ada juga PIPA. Kepanjangan dari PROTECT IP Act. Kenapa pake huruf kapital semua? Karena ada lagi kepanjangannya, yaitu Preventing Real Online Threats to Economic Creativity and Theft of Intellectual Property Act of 2011. Inti dari RUU ini adalah memberikan wewenang kepada pemerintah AS untuk menutup website-website penyedia konten ilegal, bahkan untuk website luar AS.
Awalnya aku nggak terlalu khawatir dengan hal ini. "Kan cuma undang-undang yang bakal berlaku di Amerika", begitu pikirku pada waktu pertama kali mendengar isu ini. Tapi makin lama mataku makin terbuka akan apa yang bakalan terjadi kalau memang RUU ini betul-betul disahkan.
Ada empat dasar perintah utama undang-undang SOPA dan PIPA ini:
Memerintahkan ISP untuk mengubah server DNS mereka dari membaca nama domain suatu situs di negara luar AS yang menyimpan konten ilegal seperti video, lagu, atau gambar (intinya, diblok).
Memerintahkan situs pencari seperti Google atau Yahoo atau lainnya untuk mengubah kueri pencariannya untuk mengecualikan situs yang menyimpan konten ilegal (jadi jika anda cari di situs pencari, situs ini tidak akan ditemukan).
Memerintahkan layanan pembayaran online seperti Amazon, dsb untuk mematikan akun dari situs luar AS yang menyimpan konten ilegal.
Memerintahkan layanan iklan seperti Google Adsense untuk menolak iklan atau pembayaran dari situs luar AS yang menyimpan konten ilegal.
Mengerikan, bukan? Kita udah punya DMCA, mungkin kalian mengenalnya dari pesan "This video was removed" dari YouTube, yang mengharamkan konten hak cipta untuk disebarluaskan di internet dan kini muncul lagi "musuh" yang baru yang bisa mengancam kebebasan kita di dunia maya.
Jika SOPA dan PIPA ini jadi disahkan maka seluruh konten internet akan diawasi. Jelas hal ini menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan pengguna internet. Hari ini 18 Januari 2012, pergerakan anti-SOPA memulai aksinya dengan cara melakukan "blackout" atau "pemadaman" pada website-website mereka. Salah satu yang paling menghebohkan adalah Wikipedia. Wikipedia memadamkan website mereka selama 24 jam dan cukup membuat repot banyak orang yang selalu menggunakan jasanya. Bahkan di pemadaman Wikipedia ini menjadi trending topic di Twitter dengan hashtag #FactsWithoutWikipedia.
Nah jadi apa yang bisa kita lakukan untuk menanggapi hal ini? Kan kita bukan warga negara AS? Mudah, buka aja website ini dan lakukan apa yang bisa kita perbuat semampu kita. Mari kita bersatu untuk melindungi hak-hak kita!
Belakangan ini temen-temen kampus kerajingan dengan sebuah game online berjudul Aika Online. Semua ini berawal dari beberapa hari sebelum liburan natal lalu, dimana anak-anak Lost Saga (Zuhairi dkk) plus Farid membicarakan game yang sedang mereka mainkan ini. Mereka pun memberiku client game tersebut dan mengajakku ikut bermain. Aku sendiri tidak begitu antusias karena aku sendiri hampir selalu menghindari game-game online, terakhir yang kumainkan adalah Atlantica Online dan itupun berhenti setahun lalu.
Tapi akhirnya karena sedikit penasaran aku mencoba game ini juga, dengan koneksi internet pas pas-an yang kumiliki. Aku membuat karakter dan memilih class warrior, karena umumnya warrior selalu terlihat keren. Karakterku kunamai Derp. Aku selalu tertawa setiap kali NPC di dalam game berbicara dengan karakterku, "Kamu pasti Letnan Dua Derp."
Kenalkan, Letnan Dua Derp siap menerima instruksi.
Tak ada yang begitu 'wah' di game ini yang membuatku bersemangat memainkannya. Aku sempat berhenti sejenak saat mencapai level 20. Semuanya berubah saat negara api menyerang ketika aku kembali masuk kampus seusai liburan akhir tahun. Mereka yang main mendahuluiku telah mencapai level 40-an. Bahkan karakter class crusader Farid telah mencapai level maksimal 50. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa tertinggal dan menyesal kenapa nggak melanjutkan main saat masih liburan kemarin. Belum lagi saat mengetahui ternyata teman-teman yang memainkan game ini semakin banyak, lebih dari 15 orang.
Akhirnya aku pun lanjut bermain hampir tiap hari demi mengejar ketertinggalan level. Hingga saat ini karakterku telah mencapai level 30. Untungnya karena yang main juga banyak jadi leveling jadi lebih mengasyikkan. Mendapat equipment level tinggi pun tinggal minta saja. Apalagi setelah dibuat sebuah guild yang isinya hampir semua mahasiswa TI USU. Chat window selalu berisi komentar-komentar aneh dari para anggota guild.
Setelah kupikir-pikir yang membuat game online itu adiktif adalah interaksi antar karakternya, dimana kita merasa selalu bersama teman meskipun nyatanya semua hanya duduk di depan komputer masing-masing. Bergabung bersama dalam party dan menaklukkan dungeon bersama-sama harus kuakui merupakan kegiatan yang mengasyikkan. Aku nggak tahu berapa lama aku tahan memainkan game online ini, tapi setidaknya aku harus mencapai minimal level 40 dulu sebelum berhenti.