Kamis, Februari 26, 2026

Pengen Nulis Lagi

Halo semua, minoru disini. Jujur sudah lama kupendam keinginan untuk nge-blog lagi ini. Di era gempuran sosial media dan platform microblogging yang mengakibatkan orang-orang pada overload informasi, sering kepikiran apa iya kita masih perlu sesuatu yang namanya blog

Di satu sisi platform sosmed tersebut memudahkan semua orang melempar opini atau pengalaman pribadi mereka ke rimba internet untuk dikonsumsi khalayak. Namun sebagai orang yang mengalami sendiri perkembangan teknologi terkhusus internet dari masa ke masa, rasanya ada yang kurang. Komitmen. Menulis di platform sosmed (bagiku) terasa kurang komitmen. Apa yang diposting disitu adalah apa yang saat itu sedang dipikirkan secara spontan. Beda dengan blog. 

Menulis di blog bagiku semacam ritual menuangkan ide-ide yang selama ini sudah dipikirkan secara matang di dalam kepalaku, namun sifatnya masih amburadul atau belum terstruktur dengan rapi. Dengan menuliskannya (dalam bentuk apapun), aku merasa lega dan puas. Ide-ide tadi diramu menjadi satu tulisan utuh yang jika dibaca ulang aku bisa memahami isi kepalaku saat itu.

Pengalamanku dengan blog sendiri mungkin dimulai dari hampir 2 dekade lalu. Dulu sempat nge-blog di Multiply (kenal dengan beberapa blogger lain dari sana), Tumblr (cringy kalo diinget) dan Blogger. Umumnya yang kutulis berkaitan dengan hobi. Karena pada masa itu, untuk menemukan rekan yang sehobi di internet cukup sulit. Dengan nge-blog aku berharap bisa menjangkau orang-orang yang memiliki interest yang sama denganku: anime, manga, doujin music, obscure indie games, touhou, dll.

MINORU's BLOG adalah blog dimana aku menemukan panggilanku sebagai blogger. Blog yang dimulai tahun 2019 itu berisi hal-hal random, tapi yang utama menulis tentang anime. Di era itu komunitas aniblogging sangat hidup. Aku sempat sangat aktif sekitar 2010-2012 yakni jaman kuliah semester awal. Mungkin ada hubungannya dengan banyaknya waktu menganggur sebagai mahasiswa haha. Lalu aku membuat blog ini, Dream Port sebagai blog sampingan (awalnya untuk tugas kuliah) yang membahas hal-hal yang lebih personal yang rasanya kurang cocok di blog satunya.

Anyway, komunitas blogger sekarang tampaknya sudah (hampir) mati. Dan aku juga tidak berharap akan bertemu dengan orang-orang baru lagi. Biarlah era itu kita kenang sebagai masa keemasan yang sulit untuk diulangi. Shout out ke teman-teman blogger yang walau tidak aktif lagi tapi masih berteman di Fesbuk: Neohybrid Kai (Ikemasen, Ojou-sama), Meron (Nanttetatte/Mayakashi Shoujo), Magnavalon, Kirayume, Shizuo, Alfare (beliau masih aktif btw), dll yang mungkin saya lupa. Special mention to my IRL blogger friends Luthvirtue dan Batercus.

Jadi selanjutnya apa?

Mungkin aku bakal dari waktu ke waktu menulis sesuatu yang tidak penting ke blog ini dan blog satunya. Aku sudah punya beberapa draft tulisan yang masih perlu sentuhan. Mudah-mudahan akan konsisten. Kalau tidak ya anggap aja hiatus lagi. Who knows? Not me. We never lost control~

Wassalam

Adlin I aka minoru

Rabu, September 17, 2014

Steam Kini Menggunakan Rupiah

Kliknya disini
Pagi ini ada yang berbeda ketika aku login ke akun Steam. Jumlah credit Steam Wallet-ku yang digunakan untuk transaksi jual beli di Steam telah berganti menggunakan mata uang Rupiah. Ya, mulai hari ini (17/09) pengguna Steam di beberapa negara secara ofisial akan menggunakan mata uang mereka masing-masing untuk belanja di Steam. Berapa dana Wallet yang tersisa akan dikonversi secara otomatis sesuai dengan kurs yang berlaku pada hari itu. Memang selama ini untuk membeli game dari kedai digital besutan Valve tersebut masih menggunakan US Dolar. Otomatis harga yang ditetapkan para publisher game adalah yang sesuai dengan kocek orang-orang di luar sana. Tetapi untungnya kini aku mendapati harga-harga game yang ditawarkan cukup memuaskan. Rata-rata rate yang digunakan adalah Rp10000/dollar, namun banyak juga game yang mematok harga yang jauh lebih murah daripada harga ketika masih menggunakan kurs Dolar. Misalnya seperti Dark Souls 2 yang dibanderol seharga Rp 269999, padahal di harga aslinya adalah $39.9 atau sekitar Rp 480000. Pemotongan harga yang cukup signifikan bukan?

Sayang anak, sayang anak
Umumnya harga game yang dipatok lebih murah dari Brazil, namun sedikit lebih mahal daripada harga Rusia. Para pencari deal game murah tentunya tahu jika ingin trading game murah adalah dengan trader dari Rusia, dimana harga yang ditawarkan sangat jauh lebih murah daripada harga di belahan dunia lain. Kini ada alternatif lain, yakni trading game dengan trader Indonesia, dimana harganya tidak begitu jauh dari harga Rusia. Ada juga beberapa publisher yang memasang harga fixed misalnya Ubisoft pada game-game jadul mereka Beyond Good and Evil dan Dark Messiah of Might and Magic yang biasanya dihargai $9.99 kini bisa didapat hanya dengan Rp 50000. Tentu nantinya ketika game-game tersebut masuk sale akan ada pemotongan harga lagi lebih jauh, apakah itu 50%, 66%, 75% atau bahkan 90%. Penggantian kurs mata uang dari Dolar ke Rupiah ini tadi juga dibarengi dengan pricing bug pada sebuah game, dimana tadi didapati pada game Heileen 3 Deluxe Edition yang seharusnya berharga Rp 176000 malah dihargai Rp 176! Sekarang harganya memang sudah diperbaiki tetapi hampir semua pengguna Steam di Indonesia yang memiliki sedikit sisa duit di Steam sudah mengeksploitasi bug ini.
Gim seharga sebatang es lilin
Bisa dibilang efek pergantian mata uang ini merambah ke segala aspek dunia per-game-an Indonesia. Kini tidak ada lagi alasan "omg harga game original, mending beli di pajus aja!" yang biasa diutarakan oleh para "gamer" lokal. Developer game lokal sendiri dapat menentukan harga sesuai region, jadi bisa saja nanti game-game buatan anak bangsa dihargai sesuai kocek orang Indonesia. Para penjual game original di Kaskus tentu harus menyunting besar-besaran thread lapak mereka untuk menyesuaikan harga yang berlaku sekarang. Para gamer yang biasa membeli game melalui Steam kini tidak perlu repot-repot mengkonversi harga game sesuai kurs pada hari itu yang kadang bisa berubah dari waktu ke waktu. Bagiku sendiri hal ini berarti banyak game-game indie yang bakal lebih terjangkau ketimbang harga kemarin. Tentunya aku bakal tetap menunggu game-game tersebut masuk sale sih haha. Aku jadi tidak sabar menunggu Winter Sale, dompet bisa dipastikan bakal jebol walaupun tidak sejebol tahun-tahun kemarin. Praise Gaben, the savior of PC gaming.

Minggu, Agustus 10, 2014

Sebuah Tembang Tentang Es dan Api

Gabung dengan Night's Watch sekarang dan dapatkan tur eksklusif ke seberang The Wall!

Kemarin (09/08/14) akhirnya aku menyelesaikan buku kelima dari seri A Song of Ice and Fire karya George RR Martin. Buku yang berjudul A Dance with Dragons itu merupakan buku terakhir yang telah diterbitkan dari serial ini, dimana buku selanjutnya masih sedang dikerjakan oleh pengarang. Lumayan lama juga waktu yang kubutuhkan untuk membaca buku setebal kurang lebih 1000 halaman itu, mungkin ada sekitar 6 bulan. Buku itu sendiri satu-satunya buku dari seri ASoIaF yang kupunyai dalam bentuk hardcopy, kubeli sekitar setahun lalu melalui Periplus dengan harga yang sangat miring. Dengan selesainya Dance, maka kini aku sudah bisa mengklaim hak untuk bergabung dengan para fans lain yang tengah menantikan buku penerus yang akan dinamai Winds of Winter. Berita yang beredar menyatakan jika buku tersebut paling cepat terbit pada 2016.

Aku pertama kali memulai membaca seri ASoIaF bersamaan dengan berakhirnya season 3 dari adaptasi serial televisinya, Game of Thrones. Season tersebut berakhir di saat seru-serunya yang membuatku bertanya-tanya apa selanjutnya yang akan terjadi. Menunggu setahun lagi untuk season selanjutnya tentu bukanlah jawaban yang ingin kudengar. Begitu pula dengan membaca spoiler di wiki-wiki yang ada di internet, hal itu akan mengurangi keasikan dari ceritanya. Maka aku pun memutuskan untuk membaca bukunya, yang tentu saja hanya tersedia dalam Bahasa Inggris.

Awalnya aku hanya ingin membaca buku untuk melanjutkan cerita serial televisinya, yaitu dari buku ketiga A Storm of Swords. Tetapi setelah berbagai pertimbangan aku akhirnya memilih untuk memulai dari awal yakni buku pertama.

Pada mulanya tentu berat rasanya memulai membacanya. Buku ratusan halaman berbahasa Inggris tentu terlihat mengintimidasi bagi siapapun yang tidak familiar, apalagi bahasanya terkadang menggunakan Old English sehingga mengharuskan untuk men-Google kata yang bersangkutan untuk mengetahui artinya. Namun dengan tekad yang kuat akhirnya kumulai membaca buku tersebut.

Banyaknya karakter yang muncul di buku yang tidak ada pada serial televisinya awalnya membuatku kewalahan untuk mengingatnya. Untungnya lama-kelamaan karakter-karakter tersebut terasa familiar sehingga mudah untuk mengingatnya dan mengikuti ceritanya. Ceritanya sendiri di buku pertama tidak banyak yang berbeda dari adaptasinya. Perbedaan yang mendasar hanyalah buku menceritakan dengan sudut pandang orang pertama, yang setiap chapter memiliki pencerita yang berbeda-beda pula. Dengan kata lain tidak ada tokoh utama tunggal pada seri ini, melainkan beberapa karakter di tempat yang berbeda yang menceritakan kisah yang berbeda pula. Hal inilah yang membuatku tertarik untuk melanjutkan ke buku-buku selanjutnya, sebab tiap karakter memiliki pemikiran yang berbeda dan tingkah laku yang berbeda pula. Tidak sulit untuk memilih satu dari banyak karakter sebagai karakter favorit.

Sebelum season 4 dari Game of Thrones mulai tayang, aku sudah melahap empat jilid buku yang ada, dengan buku kelima sedang kukonsumsi secara perlahan. Menantikan bagaimana adegan favoritku yang ada di buku nantinya akan diadaptasi ke layar merupakan salah satu hal yang mengasyikkan bagiku. Hal yang sama terjadi saat aku menonton anime Fate/Zero dan The Disappearance of Haruhi Suzumiya dimana aku sudah terlebih dahulu membaca naskah sumber aslinya. Tentu terkadang ada perasaan sedikit kecewa karena adaptasinya tidak sesuai dengan yang diharapkan (sebagaimana terjadi padaku di Fate/Zero), namun untungnya disamping banyaknya perbedaan dari buku, Game of Thrones tetap menarik untuk diikuti.

Untuk kalian yang penasaran tentang apa sebenarnya seri A Song of Ice and Fire ini berikut sinopsisnya kukutip dari Wikipedia. Akan ada SPOILER besar, terutama bagi kalian yang hanya berniat menonton serial televisinya saja. Susah memang menjelaskan inti cerita ini tanpa menampilkan spoiler.

The story of A Song of Ice and Fire takes place in a fictional world wherein seasons last for years on end. Centuries before the events of the first novel (see backstory), the Seven Kingdoms on the continent Westeros were united under the Targaryen dynasty, whereof the last king was killed by feudal lords led by Robert Baratheon, who became king.
The principal story chronicles a power struggle for the "Iron Throne" of Westeros after King Robert's death in the first book, A Game of Thrones. King Robert's son Joffrey immediately claims the throne with the support of his mother's family. When Lord Eddard Stark, King Robert's "Hand" (chief advisor) discovers that Joffrey and his siblings are the offspring of incest by siblings Jaime and Cersei Lannister, Eddard is executed for treason and Robert's brothers Stannis and Renly lay separate claims to the throne. Several regions of Westeros attempt self-rule: Eddard Stark's eldest son Robb is proclaimed King in the North, while Balon Greyjoy re-establishes an independent Kingdom in his region, the Iron Islands. This so-called 'War of the Five Kings' is in full progress by the middle of the second book, A Clash of Kings. 
The second story takes place on the northern border of Westeros, where an eight-thousand-year-old wall of ice defends Westeros from the Others. The Wall's sentinels, the Sworn Brotherhood of the Night's Watch protect the realm of Westeros (land of the seven kingdoms), whereas the "Free Folk" or "wildlings" are humans living north of the Wall. The Night's Watch story is told primarily through Jon Snow, supposed bastard son of Eddard Stark, as he rises through the ranks. In the third volume, A Storm of Swords, this story becomes entangled with the civil war.
The third story is set on an eastern continent named Essos, and follows Daenerys Targaryen, isolated from the others until A Dance with Dragons. On Essos, Daenerys rises from a pauper sold into marriage, to a powerful and intelligent ruler. Her rise is aided by the birth of three dragons from eggs given to her as wedding gifts: used initially as symbols, and later as weapons.
Jika kalian berniat membaca seri buku A Song of Ice and Fire harap bersiap-siap, sebab seri ini terkenal dengan pengarangnya yang tak segan untuk membunuh karakter-karakter utamanya. Bahkan karakter yang menjadi sudut pandang chapter pun tak luput dari "kekejamannya". Valar morghulis.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hosted Desktop